Jumat, 18 September 2015

BUTA KARENA SOLAR ECLIPSE



 BUTA KARENA SOLAR ECLIPSE


Suatu hari Sindi sedang berjalan di trotoar, pada saat itu matahari terlihat aneh. Ia melihat ke atas dan ternyata hanya tertutup awan. Sesampai dirumah Sindi langsung masuk kamar dan menutupi telingan dengan earphonenya, tidak lama matanya terlihat perih dan sakit. Sindi kemusian memanggil ibunya.
“Ibuuuuu.......!!!” . Teriak sindi sembari menangis.
“Ada apa nak?”. Ibunya menjawab dan menghampiri Sindi.
“Ibu mataku perih”. Rengeknya.

Ibu terlihat cemas melihat anaknya yang terus berteriak kesakitan pada matanya. Seketika ibu mengambil handphone dan menelpon ayah untuk mengabari keadaan Sindi sekarang. Ayah menyuruh ibu untuk membawa ke rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit Sindi diperiksa oleh dokter spesialis mata.
Beberapa menit setelah itu ...
“Apakah kamu pernah mengalami kecelakaan atau hal semacamnya terhadap matamu?”. Tanya dokter.
“Tidak dok, aku tidak pernah mengalami hal semacam itu” jawab Sindi.
“Apakah kamu tadi melihat matahari?”
“Iya aku melihatnya karena matahari terlihat aneh”.
“Maaf pak, bu anak bapak dan ibu mengalami kebutaan karena saraf matanya yang terbakar oleh sinar matahari yang sedang gerhana total.” Ucap dokter.
Ayah dan ibu Sindi terkejut dan tidak percaya bahwa anaknya akan mengalami kebutaan selamanya.
***

Sudah dua minggu ini Sindi tidak ingin keluar dari kamarnya. Ayah dan ibu Sindi khawatir anaknya akan melakukan hal yang negatif bagi dirinya., dan mereka berinisiatif membawa Sindi ke YPAC. Sesampai di YPAC Sindi tidak bicara sedikitpun, dia terus menangis dan tidak ingin tinggal disana. Tetapi pada saat itu ada seorang anak yang lumpuh dan buta. Dia berbicara kepada Sindi.
“Kenapa kamu sedih?”.  Tanya anak itu
“Kamu ngapain sih kesini, aku gak butuh perhatian dari siapapun. Pergi!”. Jawab Sindi marah
“Hmm... Sabar ya kamu masih mending hanya buta, kamu masih bisa berjalan . Tidak sepertiku,aku tidak bisa melihat, tidak bisa berjalan , tetapi aku masih bersyukur karena masih bisa hidup,malah aku senang tinggal disini karena semua orang memperhatikanku dan tidak mengejekku”. Ucap anak itu
Sindi tidak menjawab dan dia merenung sejenak kemudian menangis. Dia menyadari bahwa tidak hanya dia yang menagalami cacat, banyak orang disana yang mengalami cacat lebih dari dia dan sekarang Sindi nyaman untuk tinggal di YPAC.