Senin, 07 Desember 2015
Jumat, 18 September 2015
BUTA KARENA SOLAR ECLIPSE
BUTA KARENA SOLAR
ECLIPSE
Suatu
hari Sindi sedang berjalan di trotoar, pada saat itu matahari terlihat aneh. Ia
melihat ke atas dan ternyata hanya tertutup awan. Sesampai dirumah Sindi
langsung masuk kamar dan menutupi telingan dengan earphonenya, tidak lama
matanya terlihat perih dan sakit. Sindi kemusian memanggil ibunya.
“Ibuuuuu.......!!!”
. Teriak sindi sembari menangis.
“Ada apa nak?”.
Ibunya menjawab dan menghampiri Sindi.
“Ibu mataku
perih”. Rengeknya.
Ibu
terlihat cemas melihat anaknya yang terus berteriak kesakitan pada matanya.
Seketika ibu mengambil handphone dan menelpon ayah untuk mengabari keadaan
Sindi sekarang. Ayah menyuruh ibu untuk membawa ke rumah sakit.
Sesampai di
rumah sakit Sindi diperiksa oleh dokter spesialis mata.
Beberapa
menit setelah itu ...
“Apakah kamu
pernah mengalami kecelakaan atau hal semacamnya terhadap matamu?”. Tanya dokter.
“Tidak dok, aku
tidak pernah mengalami hal semacam itu” jawab Sindi.
“Apakah kamu
tadi melihat matahari?”
“Iya aku
melihatnya karena matahari terlihat aneh”.
“Maaf pak, bu
anak bapak dan ibu mengalami kebutaan karena saraf matanya yang terbakar oleh
sinar matahari yang sedang gerhana total.” Ucap dokter.
Ayah dan ibu
Sindi terkejut dan tidak percaya bahwa anaknya akan mengalami kebutaan
selamanya.
***
Sudah
dua minggu ini Sindi tidak ingin keluar dari kamarnya. Ayah dan ibu Sindi
khawatir anaknya akan melakukan hal yang negatif bagi dirinya., dan mereka berinisiatif
membawa Sindi ke YPAC. Sesampai di YPAC Sindi tidak bicara sedikitpun, dia
terus menangis dan tidak ingin tinggal disana. Tetapi pada saat itu ada seorang
anak yang lumpuh dan buta. Dia berbicara kepada Sindi.
“Kenapa kamu
sedih?”. Tanya anak itu
“Kamu ngapain
sih kesini, aku gak butuh perhatian dari siapapun. Pergi!”. Jawab Sindi marah
“Hmm... Sabar ya
kamu masih mending hanya buta, kamu masih bisa berjalan . Tidak sepertiku,aku
tidak bisa melihat, tidak bisa berjalan , tetapi aku masih bersyukur karena
masih bisa hidup,malah aku senang tinggal disini karena semua orang
memperhatikanku dan tidak mengejekku”. Ucap anak itu
Minggu, 23 Agustus 2015
CIUNG WANARA
Sebelum ayam berlaga, ayam Ciung Wanara berkokok dengan anehnya, melukiskan peristiwa benahun-tahun yang lampau tentang permaisuri yang dihukum mati dan kandaga emas yang berisi bayi yang dihanyutkan. Raja tidak menyadari hal itu, tetapi sebaliknya Si Lengser sangat terkesan akan hal itu.Bahkan ia menyadari sekarang Ciung Wanara yang ada di hadapannya adalah putra raja sendiri.
Setelah persabungan, ayam baginda kalah dan ayam Ciung Wanara menang. Raja menepati janji dan Ciung Wanara diangkat menjadi putra mahkota. Dalam pesta pengangkatan putra mahkota, raja membagi 2 kerajaan untuk Ciung Wanara dan Hariang Banga. Selesai pesta pengangkatan putra mahkota Si Lengser bercerita kepada raja tentang hal yang sesungguhnya mengenai permaisuri Pohaci Naganingrum dan Ciung Wanara.
Mendengar cerita ini raja memerintahkan pengawal agar Dewi Pehgrenyep ditangkap. Akibatnya timbul perkelahian antara Hariang Banga dengan Ciung Wanara. Tubuh Hariang Banga dilemparkan ke seberang sungai Cipamali yang sedang banjir besar. Sejak itulah kerajaan Galuh dibagi menjadi 2 bagian dengan batas sungai Cipamali. Di bagian barat diperintah oleh Hariang Banga. Orang-orangnya menyenangi kecapi dan menyenangi pantun. Sedangkan bagian timur diperintah oleh Ciung Wanara. Orang-orangnya menyenangi wayang kulit dan tembang. Kegemaran penduduk akan kesenian tersebut masih jelas dirasakan sampai sekarang
Pada bulan ke-9 Dewi Pangrenyep melahirkan seorang putra. Raja sangat bersuka cita dan sang putra diberi nama Hariang Banga.
Setelah bulan ke-13 Pohaci pun melahirkan. Atas upaya Dewi Pangrenyep tak seorang dayang-dayang pun diperkenankan menolong Pohaci, melainkan Pangrenyep sendiri.
Dengan kelihaian Pangrenyep, putra Pohaci diganti dengan seekor anjing. Dikatakannya bahwa Pohaci telah melahirkan seekor anjing. Bayi Pohaci dimasukkannya dalam kandaga emas disertai telur ayam dan dihanyutkannya ke sungai Citandui.
Karena aib yang ditimbulkan Pohaci Naganingrum yang telah melahirkan seekor anjing, raja sangat murka dan menyuruh Si Lengser (pegawai istana) untuk membunuh Pohaci. Si Lengser tidak sampai hati melaksanakan perintah raja terhadap Pohaci, permaisuri junjungannya. Pohaci diantarkannya ke desa tempat kelahirannya, namun dilaporkannya telah dibunuh.
Adalah seorang Aki bersama istrinya, Nini Balangantrang, tinggal di desa Geger Sunten tanpa bertetangga. Sudah lama mereka menikah, tetapi belum dikarunia anak. Suatu malam Nini bermimpi kejatuhan bulan purnama. Mimpi itu diceritakannya kepada suami dan sang suami mengetahui takbir mimpi itu, bahwa mereka akan mendapat rezeki. Malam itu juga Aki pergi ke sungai membawa jala untuk menangkap ikan.
Betapa terkejut dan gembira ia mendapatkan kandaga emas yang berisi bayi beserta telur ayam, Mereka asuh bayi itu dengan sabar dan penuh kasih sayang. Telur ayam itu pun mereka tetaskan, mereka memeliharanya hingga menjadi seekor ayam jantan yang ajaib dan perkasa. Anak angkat ini mereka beri nama Ciung Wanara.
Setelah besar bertanyalah Ciung Wanara kepada ayah dan ibu angkatnya. Terus terang Aki dan Nini menceritakan tentang asal-usul Ciung Wanara. Setelah mendengar cerita ayah dan ibu angkatnya, tahulah Ciung Wanara akan dirinya.
Langganan:
Komentar (Atom)



